Resensi Buku: Keluar dari Persimpangan Jalan



 https://images.apps-foundry.com/magazine_static/images/1/35350/big_covers/ID_GPU2016MTH11PBDIDPJ_B.jpg

 Judul               : Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Di Persimpangan Jalan
Penulis             : Prof. Oekan S. Abdoellah, Ph.D.
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : I, 2016
Tebal               : 214 halaman
ISBN               : 9786020336022

Di persimpangan jalan begitulah gambaran pembangunan Indonesia yang setengah hati sehingga konsistensi pembangunan berkeadilan belum dijalankan dengan optimal. Pembangunan seutuhnya adalah mengedepankan aspek keamanan manusia. Konsep keamanan manusia ditempatkan menjadi acuan bagaimana negara memiliki fungsi yang sesungguhnya. Kondisi negara lemah maupun negara gagal apabila negara tidak lagi berfungsi menjadi pembentuk tertib sosial, hukum tidak ditempatkan sebagai panglima, minim perlindungan bagi warga negara, terjadinya kemiskinan struktural akibat salah kelola sumber daya alam oleh negara dan tingginya korupsi. Keamanan manusia merupakan konsep yang membebaskan individu dari berbagai ancaman baik ekonomi, politik, sosial, maupun lingkungan hidup.
Sejalan dengan konsep keamanan manusia, sejak tahun 2015, SDGs (Sustainable Development Goals) menggantikan MDGs (Millenium Development Goals) sebagai paradigma pembangunan global yang diarahkan menuju pembangunan berkelanjutan. Idealnya SDGs mendorong pertumbuhan ekonomi namun dengan memperhatikan daya dukung lingkungan hidup. Prof Oekan terinspirasi oleh gurunya yaitu Prof Otto Soemarwoto, pakar ekologi Indonesia yang menekankan bahwa kinerja pembangunan berkelanjutan di Indonesia, semestinya dengan acuan pokok yang mencerminkan persoalan utama dan aspirasi politik masyarakat Indonesia yang beragam. Adapun persoalan utama kebijakan pembangunan berkelanjutan sepatutnya dapat menanggulangi penciptaan lapangan kerja, pemberantasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi nasional dan perlindungan lingkungan hidup.
Penulis dalam buku ini menyebutkan gagasan pembangunan berkelanjutan adalah hal yang ideal sebagai paradigma pembangunan di Indonesia, namun permasalahan internal perlu untuk diselesaikan terlebih dahulu. Permasalahan serius tersebut diantaranya: terkait belum meratanya pembangunan secara geografis; rendahnya kualitas sumber daya manusia yang menjadi masalah demografis; masalah sumber daya alam dan lingkungan; masalah ideologis; masalah politik; masalah ekonomi; masalah sosial budaya; dan masalah pertahanan dan keamanan. Penulis memandang Indonesia begitu gamang dalam mendefinisikan siapa dirinya yang kemudian berpengaruh terhadap keseluruhan sektor kehidupan karena ketidakjelasan pendefinisian karakter bangsa.
Saat ini indeks rasio gini (indeks kesenjangan pendapatan) Indonesia berada di titik rawan di angka 0,41. Indeks gini tersebut menunjukkan bahwa pembangunan belum memberikan keadilan dan keamanan mengingat indeks gini tersebut menunjukkan Indonesia sebagai negara lemah. Salah satu indikator yang disebutkan dalam buku ini sejalan dengan pemikiran Robert I Rotberg (2003) dalam bukunya ‘State Failure and State Weakness in a Time of Terror’ yang menekankan negara lemah adalah apabila negara kesatuan tetapi memiliki kelemahan secara geografis, fisik atau mengalami kelemahan ekonomi yang fundamental, pengelolaan negara yang lemah dan terjadi kesewenangan.
Penulis menggarisbawahi permasalahan ideologis sebenarnya merupakan akar masalah Indonesia di persimpangan jalan. Pancasila semakin terpinggirkan karena tidak lagi menjadi pegangan ideologis bagi pemegang kebijakan. Ironisnya, di tengah kegamangan akan ideologi, kapitalisme semakin mengakar dalam kebijakan pembangunan melalui penguasaan sumber daya alam oleh kapitalis. Permasalahan ideologis tersebut kemudian membentuk konsepsi pembangunan yang belum menunjukkan keberpihakan terhadap: NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), rakyat miskin, lingkungan, gender dan lapangan pekerjaan. Maka, apabila hal ini terus berlanjut, kondisi Indonesia bisa saja memasuki titik nadir sebagai negara gagal. Ancaman negara gagal dapat terhindarkan apabila pembangunan nasional hendaknya mengacu pada Pancasila dan UUD 1945.
Tidak sekedar mengulas kendala dan permasalahan pembangunan berkelanjutan, dalam buku ini menawarkan resep ideal rancangan pembangunan berkelanjutan. Maka untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dibutuhkan berbagai strategi. Strategi tersebut dengan kepekaan terhadap NKRI, rasa keadilan dan kesejahteraan melalui penerapan strategi ketahanan negara; strategi kemakmuran rakyat; strategi keberlanjutan lingkungan; strategi kesetaraan gender; strategi penciptaan lapangan kerja dan strategi pemerintahan bersih.
 Buku ini tidak hanya diperuntukkan untuk kalangan akademisi, tetapi juga untuk masyarakat umum dan peminat kajian pembangunan berkelanjutan bagi pemegang kebijakan, politikus, kelompok masyarakat madani hingga jurnalis. Karena gaya bahasa buku yang cair dan renyah sehingga substansi dari tulisan ini dapat dipahami dengan mudah. (Ica Wulansari, mahasiswa S3 Sosiologi Unpad).

Dimuat di Tribun Jabar, 5 Februari 2017, halaman 7.




Komentar

Postingan Populer