Aku, Kopi dan Ideologi






Tulisan itu saya dokumentasikan ketika saya tengah berada di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Karena perjalanan dari rumah ke Bandara cukup jauh dan takut terkena macet, maka saya datang lebih awal dan menunggu di kedai kopi, numpang buka laptop dan tentunya (harus) beli minuman yang mayoritasnya kopi (ya iyalah di kedai kopi gitu loh). 

Bicara kopi, sebenarnya saya bukanlah penikmat kopi, saya baru suka ngopi dalam 2 tahun terakhir ini dengan alasan tertentu. Saya ingat sekali tahun 2002, ketika saya merupakan mahasiswa tingkat akhir saat itu, saya bersama dua orang sahabat saya mengunjungi Starbuck dan ditraktir kopi oleh sahabat saya (yang saat itu masih jarang keberadaannya. Starbuck yang terletak di sebuah mall di Jakarta Utara). Tentu, saat itu saya mahasiswa yang pas-pasan, ke Jakarta pun, bukan untuk gaya-gaya-an karena untuk sebuah studi yang mengharuskan mengunjungi Kedutaan Besar di Jakarta. Sahabat saya mengajak ke Starbuck, saya pun ga ngerti apa itu Starbuck, apa lagi saat itu ga suka kopi. Walhasil ketika di Starbuck saat itu, saya asal pilih saja dan selang beberapa jam, saya mules karena ga terbiasa ngopi..ndessoo :D




Kisah pun bergulir, ketika saya menjadi wartawan, dalam beberapa kesempatan ketemu narasumber, ditawari kopi, saya selalu menolak secara halus karena ga suka kopi. Nah, suatu waktu saya liputan ke Sumatera, tepatnya ke Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jambi. Setiap liputan, saya bersama teman kameramen (saat itu saya sebagai reporter) dan biasanya teman saya kameramen itu laki-laki semua dan tidak melewatkan untuk ngopi. Apalagi, di Sumatera Utara, itu banyak kedai kopi yang katanya enak banget. Sayangnya, saat itu saya melewatkan untuk ngopi karena takut mules seperti kejadian yang saya sebutkan di atas. Padahal, Indonesia terkenal dengan kopi-kopinya yang beragam dan Sumatera salah satu surga kopi.

Kemudian, kisah pun bergulir selepas jadi wartawan, saya menjadi pengajar dan terlibat dalam projek yang seringkali ditawari untuk bertemu di tempat ngopi. Ya, ga mungkin saya menolak, ya saya iyakan dan saya mulai pesan minuman (yang bukan kopi), yang dicampur susu. Walhasil, tetap saja mulas dan ga lama terbirit-birit ke toilet wahahaha, ndesooo..

Nah, 10 tahun terakhir, saya perhatikan warung kopi semakin banyak, terutama di mall, bahkan di tempat-tempat khusus. Tepatnya bukan warung kopi tapi kafe. Kafe tempat kongkow, meeting point untuk bisnis, yang buka laptop untuk berbagai urusan dan membutuhkan internet yang kencang dari wifi kafe tersebut. Dulu, saya berpikir dan mempertanyakan mengapa harus ngopi kan bisa ngopi di rumah dan ngopi dari kopi sachet. Ternyata, kata teman yang paham tentang kopi, banyak kopi di pasaran yang tidak utuh kopi karena dicampur jagung. Kopi aslinya kan mahal gitu katanya. Namun, hasil telaah saya (etdaaah gaya amat telaah), kafe ternyata tidak hanya untuk minum kopi saja karena gaya hidup masyarakat perkotaan terutama di kota-kota yang rawan macet (daripada pulang cepat kena macet, mending nongkrong dulu) hingga alasan lainnya yang saya sebutkan di atas. Dan umumnya kafe menyediakan ragam minuman yang tidak hanya kopi, ada berbagai jenis minuman lainnya, meja yang nyaman untuk bekerja, sofa yang nyaman untuk sekedar kongkow dan santai hingga internet yang memadai yang mendukung kehidupan milenial.


Saya mulai suka ngopi ketika rumah tangga saya jalan di atas 5 tahun (apa hubungannya?). Ketika suami saya banyak urusan dan saya harus menunggu, nah daripada nganggur dan bengong, suami saya menyarankan menunggu di kafe supaya sambil baca dan bahkan bisa nulis (iya juga ya jadi produktif). Walaupun, awalnya saya menolak karena ga suka kopi, namun lagi-lagi kan ga hanya kopi, banyak varian minuman lainnya (yang saya coba dan tetap saya mules lagi)..bukan ndeso lagi, katroo..

Tapi, ada 1 kesempatan, saya minum kopi dan tidak mulas yaitu ketika tahun 2014 atau 2015 (saya lupa tepatnya) ke Aceh. Kan Aceh terkenal dengan kopinya yang mantap dan saya ke warung kopi (yang banyak tersebar di Banda Aceh), nah saya ngopi sambil menikmati obrolan pengunjung yang umumnya lelaki ke warung kopi yang saat itu terdengar bicara tentang politik lokal di Aceh dan sisanya saya ga bisa menyimak karena ga paham bahasa lokal Aceh (eeeh dasar tukang nguping) hahaha. Nah, kejadian ini yang akhirnya membuat saya 'open minded' terhadap kopi di saat sebelumnya katro minum kopi langsung mules (tapi sampe sekarang masih tiap minum kopi, mules juga, walah katro).

Dulu, kopi identik dengan pria, ngopi hanya untuk kepentingan pria, tapi sejalan perkembangan jaman, sekarang siapa pun bisa ngopi, abege (anak baru gede) aja suka ngopi suka nongkrong ke warung kopi atau ke kafe. Kalau saya sedang ke daerah, masyarakat setempat suka ngopi di warung kopi (suasananya tentu lain). Lokalitas di warung kopi lebih terasa. Maka, saya sangat berharap warung kopi lokal menjamur, karena varian kopi Indonesia ga kalah dengan kopi-kopi produk Amerika Latin. Pikiran nakal saya sering bertanya, mengapa gerai kopi di mall atau di kota-kota ko banyaknya bukan gerai kopi lokal? harusnya gerai kopi lokal harusnya lebih banyak, harusnya orang Indonesia minum kopi, kopi produk lokal, petaninya terjamin, kita pun punya kebanggaan minum kopi khas Indonesia. Namun, kopi yang merupakan komoditas bahkan ideologi masih berkutat di permasalahan politik dan petani kopi masih bergumul dengan permasalahan sosial. Maka, banyak kedai kopi yang dimiliki masyarakat yang jumlahnya tidak sebanyak gerai kopi impor bertumbuh dan kedai kopi itu membeli kopi secara langsung dari petaninya. Jadi, tata niaga kopi juga perlu diatur untuk kesejahteraan petani. Saya jadi teringat film 'Filosofi Kopi' yang dalam film itu tokoh utamanya berambisi untuk membuat kopi yang mantap karena pengalaman di masa kecil yang getir ketika ayahnya membuang kopi dan alat pembuat kopi akibat konflik agraria yang dialaminya. Ya relasi kuasa ketika petani harus tersingkir dari lahannya sendiri..masalah agraria mungkin jadi masalah bagi petani kopi. Saya sendiri belum paham, karena saya baru hanya paham walaupun sedikit mengenai petani beras. Menjadi petani di negeri ini begitu getir, minim proteksi negara dan termarjinalkan.





Kopi mampu mencairkan suasana, bertemu masyarakat lokal ketika saya di daerah kalau sambil ngopi, obrolan akan cair maka kemudian tulisan di atas 'happiness is a cup of coffee', kopi seperti sahabat akrab. Di kedai kopi yang berbasis komunitas di perkotaan, kedai kopi pun menjadi sarana untuk berdiskusi, bertukar pikiran sambil ngopi. Konon, katanya kopi itu bikin melek, obat untuk tahan kantuk (untuk saya sih engga ya, saya kalo ngopi, tetep aja ga lama suka ngantuk). 

Oiya, ketika masa kuliah S1 dulu, saya tertarik dengan paham Dependensi yang merupakan paham yang melawan modernisasi dalam studi pembangunan (eh kemudian saya masih menemukan paham ini ketika kuliah S2 dan S3 saat ini). Ada 1 ungkapan pemikir teori Dependensi yang bermula dari Amerika Latin yang menolak ketergantungan terhadap Barat yaitu Raoul Prebisch yang pada tahun 1970-an mempertanyakan 'mengapa harus Nescafe? minum kopi lokal saja'. Ya, produk Nescafe merupakan produk dari perusahaan multinasional simbol dari rezim kapitalisme. Mengapa harus bertumpu pada kapitalisme kalau produk lokal bisa lebih enak? Saya sambil membayangkan suatu saat di mall dan di berbagai tempat baik di perkotaan maupun di desa, warung kopi didominasi oleh produk lokal dan dipunyai masyarakat Indonesia yang memadai fasilitasnya untuk masyarakat berpikir, bekerja dan produktif menghasilkan karya dari warung kopi lokal. 

Ah kopi Gayo, Toraja, Kintamani, Jawa, Luwak semoga engkau ada di gerai-gerai kopi lokal dan mendunia, maka akan makin banyak ideologi ke-Indonesia-an yang ada. Bergentayangannya kopi lokal lewat gerai kopi, Indonesia makin hadir di tengah globalisasi ini.





Komentar

Postingan Populer